Siaran Pers
IPB University
No 1364/SP.BIRKOM.IPB/IX/2021
Bogor, 02 September 2021

Dies Natalis Ke-58, Rektor IPB University Ungkap 3 Mega Disrupsi dan Tantangannya

Hari ini IPB University genap berusia 58 tahun. Dalam Peringatan Dies Natalis yang digelar 1 September 2021 bertema “Inovasi Agromaritim 4.0 untuk Atasi Krisis di Era Pandemi”, Rektor IPB University, Prof Arif Satria mengungkapkan tiga mega disrupsi dan tantangannya.

Mega disrupsi pertama yaitu perubahan iklim. Terkait hal ini Rektor IPB University, Prof Arif Satria yang merupakan pakar ekologi politik ini mengurai perubahan iklim berdampak pada lingkungan dan pertanian, ekonomi, kesehatan, sosial dan energi. Perubahan iklim telah menimbulkan kekeringan, anomali curah hujan, meningkatnya bencana alam, banjir, peningkatan tinggi muka laut, risiko gagal panen dan sebagainya. “Tak hanya itu, persoalan lainnya yang muncul antara lain terganggunya aktivitas ekonomi akibat meningkatnya bencana iklim, malnutrition, stunting, peningkatan jumlah penyakit, meningkatnya konflik sosial dan konflik lingkungan, krisi energi dan air bersih, ” jelasnya.

Mega disrupsi yang kedua, sebut Rektor, revolusi industri 4.0. “Revolusi industri 4.0 memberi dampak diantaranya terhadap perkembangan teknologi, bisnis, kompetensi dan pendidikan, ” ungkapnya. Diuraikannya, revolusi industri 4.0 membuat perkembangan teknologi lebih cepat dibanding bidang lain yang ditandai dengan munculnya artificial intelligence, robotic, data sciences, internet of things, cloud, biotechnology, big data, drone dan sebagainya.

Pada aspek bisnis, disebutnya, peta kompetisi kian tajam dimana muncul aneka pekerjaan baru dan hilangnya aneka pekerjaan lama. Hal ini tentu menuntut dilakukannya reskilling, upskilling maupun penguasaan skill-skil baru. “Lebih khusus di aspek pendidikan, sejumlah tantangan sama-sama kita hadapi dimana pembelajaran dilakukan secara online. Daya fleksibilitas kita dituntut dalam hal ini. Tantangan besarnya adalah bagaimana pendidikan tinggi kita ke depan berinovasi dalam menjawab berbagai tantangan tersebut sehingga kita bisa survive untuk terus melahirkan inovasi unggul dan lulusan yang responsif terhadap perubahan.

Mega disrupsi yang ketiga adalah pandemi COVID-19. “Pandemi telah membawa dampak baik pada aspek sosial, ekonomi, pendidikan, ekologi berupa perubahan gaya hidup, fleksibilitas kerja, terbatasnya mobilitas penduduk, perlambatan pertumbuhan ekonomi, peningkatan angka kemiskinan, pengangguran hingga learning loss, “ jelasnya.

Sebagai respon terhadap mega disrupsi yang ketiga ini, Prof Aris menyodorkan solusi bernama ekonomi baru (new normal economy). “Ada tujuh ciri ekonomi baru yaitu Agromaritim sebagai fokus pembangunan berkelanjutan; Desa sebagai pusat pertumbuhan baru berbasiskan keunggulan lokal; Ekonomi digital untuk meningkatkan efisiensi dan akses sumberdaya; Ekonomi moral (gift economy) sebagai fondasi ketangguhan sosial ekonomi;
Ekonomi hijau/biru untuk meningkatkan nilai tambah dan produksi berkelanjutan;
Perilaku sehat dan hijau (green) untuk mendukung konsumsi yang berkelanjutan; dan Inovasi sebagai penggerak techno-sociopreneurship. (sn)

Keyword: Dies Natalis IPB ke-58, konsep ekonomi baru, new normal economy, agromaritim

Kategori SDGs-1, 2, 3, 4, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15

========================
Biro Komunikasi
IPB University
http://ipb.ac.id

Homepage

http://greencampus.ipb.ac.id
http://covid19care.ipb.ac.id
Telp: 0251-8622642
WA : 0813-1114-5893
Email: biro.komunikasi@apps.ipb.ac.id
Fb: @ipbuniversity
Twitter : @ipbofficial
IG : @ipbofficial
Line : @ipbuniversity